Udah lama nggak ngepos dan kali ini bakal posting tentang cerpen baru. Lets check it out.
Di Sana Beda Di Sini Juga
Aku duduk terdiam. Melihat anak-anak kecil berlarian
kesana-kemari. Hujan di kemarin malam seolah tidak dirasakan oleh kaki-kaki
mereka. Aku mencoba berdiri bertanya pada salah satu dari mereka.
“Dek ada apa ta ko
lari-lari?” Tanyaku dengan lembut kepada anak-anak itu.
“Itu lho mas kethopraknya
sudah mau dimulai! Cepat-cepat supaya kebagian kursi.” Jawab salah satu dari
mereka dengan polos.
Memang betul hari itu
ada sedekah bumi di desa tempat aku tinggal. Sebelum acara di mulai biasanya
para ulama setempat mengadakan khajatan terlebih dahulu. Jauh hari sebelum hari
itu. Biasanya anak-anak dari desa lain pergi ke desaku untuk mengikat tiang di
rumah-rumah penduduk. Yang tandanya rumah itu akan memberi sebuah hidangan
untuk khajatan atau dalam bahasa jawa disebut Ambengan.
Aku terdiam kembali. Karena rumahku berdekatan dengan
rumah Kepala Dusun, tempat sedekah bumi berlangsung, jadi aku tidak perlu
berjalan jauh-jauh untuk menonton. Hingga seorang temanku datang menghampiriku.
“Hai kak, kenapa kok ndak nonton? Ayo nanti tidak kebagian kursi lho.” Kata
temanku yang bernama Syahri. “Ah nanti dulu, sudah kalau mau duluan aja aku
nanti kok” Jawabku
Melihat Syahri yang
masih di kelas 6 SD itu berjalan semakin jauh membuatku iri dengannya. Rasanya
aku ingin kembali pada masa kecilku ketika yang hanya di pikiranku hanyalah
bagaimana caraku untuk tetap tersenyum.
Waktu demi waktu berlalu dan aku masih duduk terdiam. Aku
mulai bosan untuk menunggu. Akhirnya aku mencoba untuk berjalan ke arah temapat
sedekah bumi berlangsung. Langkah demi langkah aku melihat banyak pedagang yang
menjajakan dagangan mereka. Dan banyak dari mereka yang sudah semalam menunggu
membuat tenda di sekitar tempat mereka berjualan. Ku akui sungguh sebuah
pengorbanan yang luar biasa.
Hingga di salah satu pedagang mainan aku bertemu dengan
teman lamaku. Lucu memang merasakan kami berdua telah tumbuh dengan cepat.
Luthfi namanya teman Sdku dulu, meskipun kami SMP kelas 8 tapi kami sangat jarang sekali berjumpa seperti ini.
Aku dan dia bersekolah di tempat yang berbeda.
Sekolahku di SMP N 1 Winong dan
dia di Mts N Winong. Saat perjumpaan itu kami berbicara cukup banyak tentang
bagaimana keadaan kita di sekolah masing-masing.
“Sa bagaimana
sekolahmu?” Tanya Luthfi padaku
“Ya begini saja lah
tenang dan lagi banyak tugas.” Jawabku santai
“Hahahaha dari dulu
kamu itu tidak berubah” Sahut Luthfi
Memang seru saat
perbincangan ku dengannya dan di saat di tengah-tengah kami sedang
berbincang-bincang. Tiba-tiba terdengar bunyi “Dor” yang ternyata bunyi sebuah
mercon.
Ternyata berasal dari para
lakon-lakon yang sedang bermain di atas panggung. Sontak saja aku kaget
mendengar itu. Hal itu digunakan untuk memeriahkan suasana dan membuat kesan
pertarungannya lebih kuat. Hal itu langsung saja membuatku penasaran dan
langsung saja segera aku dengan Luthfi berlari untuk melihat apa yang terjadi.
Ternyata ada salah salah tokoh yang sedang betarung
dengan siluman-siluman. Hal itu membuat para penonton terpaku dengan suasana.
Memang banyak yang menunggu bagian ini bagian dimana terdapat
pertarungan-pertarungan menarik didalamnya.
Hal ini membuat aku
teringat kembali kenangan pada 4 tahun yang lalu. Saat itu aku masih berumur 10
tahun. Hari itu sama seperti hari ini sedang ada sedekah bumi di tempatku.
Pagi-pagi sekali aku bangun untuk melihat acara syukuran. Aku tak peduli
meskipun hujan gerimis datang. Langkah-langkahku pada waktu itu seolah tiada
hambatan namun yang namanya kehidupan tidak ada yang tahu bagaimana jalannya.
Tiba-tiba telingaku mendengar ucapan seseorang dari dalam
masjid. Aku mendengar bahwa seorang tetanggaku meninggal dunia. Aku tak percaya
mendengarnya karena orang itu adalah orang yang berjualan di dekat sekolahanku
waktu SD. Mungkin ini penyebab langit meneteskan rintik-rintik air mata.
Langsung saja para ulama setempat datang rumahnya. Aku
yang tengah itu masih tidak tahu apa arti kehilangan masih terdiam. Hingga Ega
temanku mengajakku pergi. Kami berdua menjauh dari tempat itu. Dia mengajakku untuk agak menjauh dan menghindari
keramaian dulu sejenak. Dengan bosan menunggu akhirnya kami berdua bermain
bola.
“Sa, ayo tendang!!
Bobol gawangnya.” Teriak Ega
“Pasti, jangan remehkan
tendanganku!” Sahut ku
Waktu berlalu sedikit demi sedikit. Waktu Dhuhur
berkumandang. Acara sedekah bumi pada hari itu agak tidak tepat waktu karena
sebagian warga harus memakamkan jenazah. Ega mengajakku untuk kembali ketempat
Acara sedekah bumi dimulai. Berhubung pada saat itu acaranya adalah wayang.
Banyak alat-alat yang bisa kumainkan sebelum wayang dimulai. Seperti gamelan
yang digunakan dalam acara pertunjukkan. Aku memainkan gamelan-gamelan itu
dengan asal-asalanl Dari kejauhan mungkin aku terlihat seperti pemain yang
handal. Tapi begitu di dekati, seperti orang yang tidak berpengalaman sekali.
Sementara Ega malah bermain gong. Dia memukul-mukul gong
dengan tangannya sendiri hingga terasa kesakitan. Aku hanya dapat tertawa
melihatnya memainkan gong itu. Dari kejauhan aku melihat ada temanku lagi yang
datang ke sini untuk membeli jajanan dari para penjual-penjual.
“Hai mau ngapain? Sini
lho” Aku menyapa temanku Iman
“Hehe Mas bro mau beli
jajan dulu, Sabar” Jawab Iman dengan santai
Iman adalah temanku sekelasku saat itu. Dia merupakan
salah satu temanku yang baik
Kebaikannya adalah
salah satu tanda tanya bagiku. Dia adalah seorang anak yatim Ibunya meninggal
terlebih dahulu. Kini dia hanya tinggal dengan ayahnya. Namun hal itu seolah
tidak membuatnya putus asa dengan keadaan. Melihatnya terkadang membuatku iri.
Bagaimana dia masih dapat tersenyum dalam kondisinya yang seperti itu. Beberapa
saat kemudian dia kembali dengan membawa plastik yang berisi gorengan dari
seorang penjual di acara sedekah bumi tersebut.
“Sa! Main terus kamu
belajar sana lho” Teriak Iman dengan tiba-tiba
“Heleeeh sok bijak
padahal kamu sendiri di rumah juga tidak pernah belajar” Jawab ku dengan
mengejeknya
“Yeeee cepat belajar
sana Bapakmu marah nanti lho” Kata Iman
“Memangnya apa
urusanmu?” Jawabku acuh tak acuh
“Yeee mulai marah mulai
marah hahahah” Sahut Iman
Setelah mendengar tawa Iman yang cukup membahana itu.
Akhirnya aku menang. Tiba-tiba ia tersedak saat memakan gorengan yang ia beli
tadi.”Hooooeeeeeek” teriak Iman tersedak. Teman-temanku lain yang melihatnya
juga ikut tertawa melihatnya. Setelah bercanda tawa, kami disuruh minggir oleh
panitia karena acaranya akan segera dimulai.
Aku dengan sabar
menanti duduk di bagian paling depan supaya dapat mengetahui apa yang
diceritakan dhalang kali ini. “gleng dung gleng dung gleng” Suara gamelan yang
dimainkan oleh pembawa alat musik (atau niyaga dalam bahasa jawa) mengiringi
acara Wayang tersebut. Sayang hari itu hanya ada sedkit masyaraat sekitar yang
menonton. Mungkin mereka menganggap acara wayang itu membosankan fikirku.
Yang benar saja padahal wayang adalah salah satu budaya
Indonesia. Yang diamana wayang itu adalah warisan budaya. Dan tidak semua
negara mampu menirunya. Sungguh aku tidak percaya dengan apa yang telah terjadi
di tempatku. Meskipun ramai namun hanya pada tempat para pedagang saja. Mereka
hanya melihat-lihat penjual mainan dan penjual makanan ringan.
“Dor” tiba-tiba suara
mercon mengagetkanku dari lamunan masa lalu itu. Para lakon telah mulai
berganti. Dan kini mereka menjadi lebih sangar dari yang tadi. Dengan lincah
para lakon-lakon beraksi. Mulai dari yang pukul-pukulan biasa hingga salto.
Kemampuan-kemampuan mereka akting yang jarang dimiliki orang lain membuat
mereka terllihat sangat istimewa. Bayangkan saja bagaimana para lakon-lakon itu
berjuang. Hingga mereka rela tidur di jalan-jalan demi lancarnya pertunjukkan,
sungguh beruntung nasibku lahir di keluarga cukup.
Dan kali ini acaranya
berganti menjadi Lawakan (Atau dagelan dalam bahasa jawa). Mungkin dalam
istilah sekarang orang-orang banyak menyebutnya dengan stand up comedy namun
dengan bahasa jawa. Lakon pada dagelan tersebut adalah Kancil dan
Belong. Banyolan-banyolan khas mereka membuat ku sontak tertawa. Gaya-gaya
mereka yang selalu mengundang canda tawa sangat menghibur para kaum muda yang
sedang dilanda galau.
Banyolan-banyolan khas Jawa tersebut memang sangat
diminati para penonton. Dari golongan muda hingga golongan tua. Hal yang kusuka disini dimana semua orang
dapat membaur menjadi satu.
Dan jika sudah begini biasanya para pemain akan lupa
waktu. Hingga matahari mulai condong ke arah barat. Tanda Acara kethoprak harus
di sudahi. Memang dalam penyajiannya. Kethoprak dibagi menjadi dua babak.
Pertama dari siang hingga sore hari. Dan kedua Jam 8 hingga malam hari.
Para lakon dan semua
pendukung mulai berisitirahat. Dari wajah-wajah mereka kelihatan kalau mereka
tampak lelah. Mereka akan melaukukan apapun demi kumpulkan rupiah hanya demi
keluarga dirumah yang sudah menanti mereka. Terkadang aku merasa kasihan dengan
keluarga mereka yang ditinggal di rumah.
Namun kehidupan
ini sudah ada yang mengatur bagaimana manusia hidup. Apakah mereka akan
menghadapi dunia ini dengan mudah atau sebaliknya. Tiba-tiba Hand phone
ku berdering rupanya saudara ku yang dari Kalimantan menelpon. Dia pernah
tinggal di Jawa untuk 6 tahun dari SMP kelas 7 hingga lulus SMA. Namun karena
tuntutan pekerjaan dia harus pindah ke Kalimantan.
“Halo assalamualaikum”
Sapa Gama di seberang telpon
“Walaikumsalam ada apa bro” Ku jawab dia dengan Bahasa
Indonesia karena aku takut dia sudah lupa dengan bahasa jawa
Ternyata aku salah dia
masih ingat 100% bahasa jawa. Di seberang telpon dia menjawab “Halah rak usah
nganggo bahasa indonesia isih iling aku basa jawa.” Atau dalam bahasa indoneisa
“Hah nggak usah pakai bahasa indonesia masih ingat aku bahasa jawa”.
Pembicaraan kami berlangsung sangat lama aku tahu dia kangen dengan Tanah Jawa
ini. Dia juga bercerita bahwa kebutuhan di Kalimantan lebih mahal.
Dia juga bercerita
bahwa ada sebuah acara adat di daerahnya. Di sana didominasi oleh suku Dayak.
Rumah-rumah disana juga disesuaikan dengan adat setempat. Dia berkata bahwa ia
sedang memiliki pekerjaan yang menumpuk. Namun ini sudah menjadi kegiatannya
sehari-sehari. Dia juga berencana pulang ke Jawa untuk aktivits liburannya
kelak. Karena kesibukannya ia jarang menelpon nomer-nomer saudaranya yang ada
di Jawa. Kemudian Gama menutup telponnya karena upacara adat di sana telah
dimulai.
Malam itu aku bergegas mengerjakkan tugas-tugas sekolah
meskipun agak terganggu dengan suara-suara dari pemain kethoprak namun aku
tetap berusaha berkonsentrasi. Setelah semuanya selesai aku pergi ke tempat itu
lagi untuk melepaskan penat. Kali ini aku kesana dengan kakak perempuanku.
Dengan tingginya yang sekarang sudah kulampau aku malah terlihat sebagai
kakaknya dibanding adiknya. Hal pertama yang ku datangi adalah ketempat penjual
Pop ice karena aku sangat haus.
Pada malam hari kethoprak letersa lebh seru dibanding
dengan siang hari di malam hari lakon-lakon terlihat lebh sangar dari siang
hari terlebih lagi pada siluman-silumannya. Terlihat sangat menarik.
Sayang hal ini hanya terjadi sekali daslam setahun. Hanya
di pertunjukkan saat ulang tahun desa saja. Malam itu aku bertemu banyak sekali
temanku. Rata-rata mereka adalah temanku SD dulu. Mereja sekarang terlihat
lebih besar dibanding waktu SD dulu. Hanya temanku yang bernama Ana yang
tingginya dari dulu tidak pernah berubah.
Aku permisis dulu dengan kakakku karena aku ingin
berkumpul dengan teman-teman lamaku. Saat salah satu temanku Alfi mengajakku
pergi jalan-jalan aku melihat ada kumpulan orang duduk di bawah pohon dengan
menggunakan lilin sebagai penerangan. Ternyata mereka sedang bermain judi.
Mereka bermain judi
dengan menebak angka yang akan dikeluarkan oleh sang bandar. Terlihat mereka
sangat menikmati permainan tersebut. Namun hasil yang mereka dapatkan hanyalah
uang haram. “Sa mending kita pergi saja yuk?” Ajak Alfi. “Ya mending kita
kembali ke tempat teman-teman kita tadi.” Jawabku.
Kami berjalan kembali
ke tempat kami tadi. Temank yang semuanya berjumlah 7 orang itu menceritakan
bagaimana keadaan sekolah mereka, hasil belajar mereka, serta prestasi mereka.
Mereka juga bercerita ada guru yang galak di sekolah mereka.
Canda tawa malam itu
mengiringi kami saat menonton kethoprak. Jujur terkdang aku merindukan hal-hal
yang seperti ini. Bercanda tawa dengan teman-teman lama yang membuatku sadar
bahawa persahabatan akan selalu ada sampai kita mati. “dor” suara mercon
mengagetkan kami. Sontak saja temanku langsung tersedak saat mendengar itu
karena terkaget.
Aku hanya bisa tertawa
melihat ia.Tiba-tiba Hand phone ku bunyi. Ternyata Gama menelpon ku.
“Halo assalamualaikum acaranya sudah selesai.” Kata Gama di seberang telepon.
“Walaikum salam wah bagaimana tadi?” Tanyaku pada Gama. “Wah acara adat disini
keren udah lama nggak nonton yang beginian. Tiap hari yang ditonton Cuma
komputer di kantor.” Jawab Gama.
Memang benar acara adat di daerah sana bagus. Namun hal
itu tidak mebuat ku sebagai generasi muda larut begitu saja. Aku juga
menganggap acara adat di tempatku bagus. Sebagai generasi muda aku hanya dapat
menghargai apa yang telah diwarisakan para pendahulu. Karena sebuah acara adat
adalah sebuah acara sakral yang sudah turun temurun. Karena itu jarang sekali
yang melanggar. Dan jika dilanggar akan
mendapatkan bala. Contoh ketika ada orang yang akan menikah, mereka harus
dihitung dulu angka kelahiran mereka
jika jumlahnya termasuk angka yang terlarang maka pernikahan ini harus
dihentikan. Jika tidka akan membahayakan pengantin tersebut. Sama halnya dengan
perbedaan adat seperti Aku di Jawa dan Gama di Kalimantan hal itu tidak
membuatku merasa berbeda. Yang penting Indonesia
TAMAT






0 comments:
Post a Comment