KAKI
KECIL MELANGKAH
“Ayooo-ayoooo
cepat-cepat bisnya tinggal satu ayoooo” Teriak kernet dari salah satu bis. Roni
hanya terdiam melihat itu dan segera bergegas pulang kerumah.
Roni tinggal hanya
dengan ibunya dan seorang adik kecilnya bernama Didi. Mereka adalah sebuah
keluarga sederhana Ayah Roni meinggal saat ada sebuah bentrokan di tempat
tinggalnya. Roni terpaksa putus sekolah untuk membantu menghidupi keluarganya
dengan mengamen. Sementara Ibunya hanyalah pedagang kecil dengan penghasilan
tidak menentu.
Keesokan paginya Roni
berangkat untuk mengamen namun kali ini ia di temani adiknya. “Buk saya
berangkat dulu ya?” Pamit Roni kepada ibunya
“Ya nak hati-hati.”
Sahut Ibunya
Beberapa saat kemudian
Roni sudah sampai di terminal. Biasanya dia mengamen dari bis satu ke bis lain.
Hari semakin siang uang yang didapatkan Roni tidak lebih dari biasanya. Hingga
pada saat Roni mengamen di salah satu bis. Roni menemukan sebuah dompet. Dompet
itu penuh dengan uang, sejumlah kartu kredit dan asuransi. “Dompet siapa ini?
Banyak uangnya.” Kata Roni dalam hati.”Kakak mending kita bawa saja kerumah Ibu
pasti senang.” Kata Dede. “Jangan lebih baik kita mencari pemiliknya,
pemiliknya pasti bingung mencari-cari dompetnya kebetulan disini juga ada
KTP-nya.” Sahut Roni kakaknya
Akhirnya mereka mencari
pemilik dompet tersebut. Mereka menyamakan foto di KTP dengan wajah penumpang.
Kemudian terlihatlah seseorang yang sedang bingung mencari sesuatu. Setelah
disamakan dengan foto yang ada di KTP ternyata sama.
“Ma’af Om kehilangan
dompet ya?” Tanya Roni pada pemuda tersebut
“Ya dek kok adek tahu?”
Tanya kembali pemuda tersebut
“Ini mungkin dompet
anda tadi terjatuh di depan pintu masuk.” Kata Roni
“Wah terima kasih dek,
sebagai tanda terima kasih Adek Om anter ke rumah ya?” Tanya pemuda tersebut
“Tidak usah Om kami
ikhlas kok.” Jawab Roni
“Sudahlah tidak
apa-apa.” Paksa pemuda tersebut
“Baiklah Om kalau
begitu.” Jawab Roni
Akhirnya mereka pemuda
tersebut mengantar Roni dan adiknya pulang. Sebelum pulang pemmuda tersebut
mengajak mereka berdua makan di sebuah Rumah Makan. Mereka berdua yang tengah
kelaparan merasa senang ketika diajak makan oleh pemuda tersebut. “Wah
makanannya enak.” Kata Didi. “Hahaha makanlah sampai kenyang” Kata pemuda
tersebut
“Tunggu dulu nanti Ibu
bagaimana?” Kata Roni yang sedang cemas pada Ibunya. “Sudahlah nanti Om
bungkuskan” Kata pemuda tersebut.
Beberapa saat kemudian
pemuda tersebut terkejut setelah melihat rumah yang ditempati Roni dan Dede.
Rumah tersebut sangat sederhana bahkan sebagian dindingnya terbuat dari
kardus.”Assalamualaikum” Teriak Roni kemudian masuk kedalam rumah.
“Walaikumsalam” Jawan Ibunya dari dalam.
Ibunya sempat terkejut”
kenapa ada orang luar sampai masuk ke rumah ini?” Kata Ibunya dalam hati.
Kemudian Roni menjkelaskan semuanya mulai dari: Bagaimana bisa bertemu,
bagaimana mereka sampai kesini semua Roni yang menjelaskan.
“Jadi apa tujuanmu
kemari?” Tanya Ibu pada pemuda tersebut
“Tadi anak Ibu
menemukan dompet saya yang jatuh di bis sebagai tanda terima kasih saya
mengantrakan mereka pulang.” Jawab Pemuda tersebut
“Oh ya ngomong-ngomong
Ibu belum tahu nama kamu, nama kamu siapa?” Tanya Ibu Roni
“Panggil saja Deni Bu”
Jawab pemuda tersebut yang ternyata bernama Deni
“Oh Deni nama yang
bagus” Sahut Ibu Roni
Mereka bercakap-cakap
disana sangat lama hingga tak terasa malam pun tiba karena ada urusan besok
pagi Om Deni akhirnya pulang. Om Deni sempat menawari Roni dan Didi untuk
sekolah namun pada malam itu mereka menolaknya.
Keesokan harinya Roni
dan adiknya seperti biasa mengamen di sebuah bis dan terminal. Pagi berganti
menjadi siang dan saat itu mereka berada di sebuah warung dekat terminal.
Mereka mendengar percakapan lelaki tua di sebelah mereka. Lelak tua tersebut
membicarakan tentang sebuah kecelakaan bis di sebuah perempatan kota.
Kemudian beberapa saat
kemudian saat tengah asyik mendengarkan cerita tersebut. Tiba-tiba sebuah bis
datang dari arah pintu masuk terminal. Mereka bergegas untuk segera masuk demi
mendapatkan Rupiah demi Rupiah.
Tak terasa bagi mereka
tiba-tiba langit menjadi gelap. Mereka kemudian pulang dan segera menemui Ibu
mereka.
“Dapat berapa Nak hari
ini?” Tanya Ibunya kepada Roni.
“Hari ini lebih sedikit
dari kemarin Buk.” Jawab Roni
“Ya sudah bagaimanapun
kita tetap bersyukur masih dapat rezeki dari Allah.” Hibur Ibunya
Di tengah-tengah
seriusnya mereka mengobrol tiba-tiba seorang pemuda masuk datang kerumah mereka
“Assalamualaikum”
Teriak pemuda tersebut
“Walaikumsalam” Mereka
bertiga
“Eh ternyata kamu, Om
Deni!” Sahut Ibunya
“Wah Om Deni mau kesini
tidak bilang-bilang.” Kata Didi
“Tadi Om Deni sempat ke
terminal yang biasa buat kalian main tapi, Kalian tidak ada” kata Om Deni
“Waah tadi kami sibuk
Om” Jawab Roni
“Haaah ada-ada saja
kamu ini” Kata Om Deni
Malam itu mereka
mengobrol dengan asyik sekali. Ibu Roni yang menganggap Om Deni seperti anaknya
seolah tak keberatan mengobrol dengan mereka semua. Hari itu mereka semua terlihat bahagia.
Malam itu Om Deni
menawari mereka sekali lagi untuk bersekolah mereka berdua tetap ragu-ragu
tentang hal itu. Mereka takut tidak dapat mendapatkan uang seprti biasanya.
Yang ada di pikiran mereka hanya apakah uang hasil jualan Ibunya itu cukup.
Hingga tiba-tiba Om Deni berkata “Kalian tidak usah khawatir soal biaya nanti
Om yang akan mengurus kalian tenang saja.” Mereka kemudian berfikir dua kali.
“Nanti Ibu bagaimana?”
Tanya Roni kepada Om Deni
“Sudahalah nak Ibu
tidak apa-apa bukannya sekolah itu memang keinginanmu?” Sahut Ibu
“Benar Ibu tidak
apa-apa?” Tanya Dede kepada Ibunya
“Tenang saja Ibu akan
baik-baik saja.” Jawab Ibu
“Nah bagaimana
sekarang? Mau kan sekolah?” Tanya Om Deni
“Ya kami mau tapi,
tidak punya seragam.” Jawab Roni Dan Didi
“Tenang saja nanti akan
Om carikan” Jawab Om Deni
Keesokan paginya Roni
dan Dede sudah memakai seragam sekolah. Kaki yang dulunya tanpa alas kaki,
sekarang memakai sepatu. Ternyata Om Deni mendaftarkan mereka berdua di sebuah
SD yang cukup dekat dengan kantornya. Sehingga mempermudah bagi Om Deni untuk
mengawasi mereka.
Minggu demi minggu
berlalu, bulan demi bulan berlalu Roni dan Dede meskipun mmereka tertinggal
mereka dapat mengejar materi dengan cepat. Karena daya serap otak mereka
dikatakan tinggi dan selisih umur mereka yang memadahi. Roni di tempatkan di
kelas 6 sedangkan iedi di kelas 4. Tanpa di sadari waktu berlalu bagaikan
kejapan mata. Hingga pada suatu pagi saat Roni dan Dede hendak berangkat
sekolah. Mereka merasakan seolah akan ada sesuatu yang akan menimpa mereka.
Namun mereka tetap berangkat sekolah karena pada hari itu ada Ulangan Kenaikan
Kelas. Setelah mereka berdua pulang terlihatlah ada sebuah beberapa tetangga di
rumah mereka
Setelah mereka malihat
hal tersebut Roni berkata dalam hatinya. “Jangan-jangan itu....” Kemudian
mereka bergegas pergi dan melihat apa yang terjadi. Mereka sangat terkejut
setelah melihat dan menyadari bahwa Ibunya telah dalam kondisi kritis.
“Ibu... Ibu kenapa?”
Tanya Roni pada Ibunya yang hanya bisa berbaring
Tiba-tiba Om Deni
datang kerumah mereka berdua
“Hah apa yang terjadi astagfirullah haladzim cepat kita bawa
Ibu ke Rumah Sakit” Kata Om Deni yang tiba-tiba datang
Setelah di rumah sakit.
Ibu mereka langsung di bawa ke UGD. Mereka Roni dan Didi yang ingin masuk untuk
melihat langsung di hadang suster. Tidak ada yaang lain yang dapat mereka
lakukan selain menunggu hasil dokter. Setelah beberapa jam menunggu akhirnya
mereka dapat di perbolehkan masuk.
“Bu Ibu kenapa Bu?”
Tanya Roni kepada Ibunya
“Ibu tidak apa-apa kok
nak.” Jawab Ibunya
“Lantas kenapa Ibu
seperti ini?” Tanya Didi
“Yang penting sekarang
apa pun yang terjadi kalian tidak boleh menangis dan harus tetap tegar ingat
Ibu akan selalu menemani kalian” Ujar Ibu
Semenjak saat itu
mereka berdua selalu menemani Ibunya bahkan sampai membolos sekolah. Hingga
pada suatu hari mereka terkejut saat detak jantung Ibunya makin melemah.
“Dokter......
tolong!!!!!!!!” Teriak Roni di rumah sakit
Detak jantungnya
semakin melemah Dokter bergegas untuk memeriksa Ibu. Mereka yang hanya berdua
karena Om Deni sedang ada cara penting. Kemudian di suruh suster untuk
keluar.Mereka hanya dapat menunggu. beberapa saat kemudian Om Deni datang
menemui mereka
“Apa yang terjadi?”
Tanya Om Deni pada mereka berdua
“Ibu kritis lagi.”
Jawab Roni
Tiada kata lain yang
terucap selain perasaan terkejut di muka Om Deni. Setelah beberapa jam
kemudian. Dokter keluar dari ruangan tersebut
“Bagaiman Dok
hasilnya?” Tanya Om Deni pada dokter itu
“Kanker yang
dimilikinya kini telah mancapai stadium IV detak jantungnya kini mulai melemah,
Dan kami sudah melakukan yang terbaik”
“S...sudah melakukan
yang terbaik?”
“Tapi kami minta ma’af
ternyata Tuhan berkehendak lain.”
“Dia hanya akan dapat
bertahan sampai besok.”
Rasa kecewa terlihat
jelas di raut muka Om Deni. Kemudai mereka bertiga masuk ke ruang Ibu. Ibu yang
hanya tergeletak lemas menambah kesedihan mereka.
“Nak ada sesuatu yang
ingin Ibu sampaikan pada kalian”
“A..apa Bu?” Jawab Roni
dan Didi
“Tadi malam Ibu
bermimpi Ayah menjemput Ibu dan aku melihat kalian telah tumbuh Dewasa menjadi
pribadi yang cerdas. Dan ada satu yang ingin Ibu sampaikan Jangan pernah
menyerah dalam keadaan apapun yakinlah pasti ada sebuah jalan keluar kamu harus
janji nak”
“Ya bu kami berjanji”
Om Deni yang melihat
kejadian tersebut tak kuasa menahan tangis. Keesokan paginya Ibu telah di tutup
dengan kain putih. Acara pemakaman berlangsung di rumah mereka yang telah di
renovasi. Rono dan Didi harus izin tidak masuk sekolah. Om Deni juga izin tidak
pergi bekerja.Para pelayat banyak berdatangan karena di tempatnya Ibu dikenal
sebagai orang yang sangat baik
Suasana menjadi sangat
sedih ketika jenazah sudah sampai di tempat pemakaman.Roni dan Didi tak kuasa
menahan tangis. Setelah berbagia acara jenazah kemudian di kubur. Setelah acara
tersebut selesai yang masih di pemakaman hanya Roni, Didi dan Om Deni
“Om ada sesuatu yang
ingin ku tanyakan.” Kata Roni pada Om Deni
“Apa?” Kata Om Deni
“Kenapa selama ini Om
Deni sangat baik pada keluarga kami? Seolah semenjak kejadian itu Om seperti
bagian dari keluarga kami.”
“Sebenarnya Om dulu
juga sama seperti kamu kedua orang tua Om meninggal dunia saat umurku masih
sepertimu , Kedua orangtuaku meninggal saat ada sebuah bentrokan di tempat
tinggalku namun ada seseorang yang menolongku pada saat itu, Seorang pemuda
yang sangat baik, aku menggilnya dengan Om Aji. Yang tiada lain adalah Ayahmu.”
“Haaaah A..ayahku?”
“Ya, Aku mengetahuinya
dari sebuah cincin yang diletakkan di atas meja pada malam itu”
Roni dan Didi terkjut
mendengar itu semua.
“J..jadi selama ini kau
seolah membayar budi yang telah dilakukan Ayahku?” Tanya Roni
“Ya kau bisa
menyebutnya seperti itu.”
TAMAT






0 comments:
Post a Comment