Monday, 16 December 2013

Cerpen 'Kaki Kecil Melangkah"

KAKI KECIL MELANGKAH

            “Ayooo-ayoooo cepat-cepat bisnya tinggal satu ayoooo” Teriak kernet dari salah satu bis. Roni hanya terdiam melihat itu dan segera bergegas pulang kerumah.
Roni tinggal hanya dengan ibunya dan seorang adik kecilnya bernama Didi. Mereka adalah sebuah keluarga sederhana Ayah Roni meinggal saat ada sebuah bentrokan di tempat tinggalnya. Roni terpaksa putus sekolah untuk membantu menghidupi keluarganya dengan mengamen. Sementara Ibunya hanyalah pedagang kecil dengan penghasilan tidak menentu.
Keesokan paginya Roni berangkat untuk mengamen namun kali ini ia di temani adiknya. “Buk saya berangkat dulu ya?” Pamit Roni kepada ibunya
“Ya nak hati-hati.” Sahut Ibunya
Beberapa saat kemudian Roni sudah sampai di terminal. Biasanya dia mengamen dari bis satu ke bis lain. Hari semakin siang uang yang didapatkan Roni tidak lebih dari biasanya. Hingga pada saat Roni mengamen di salah satu bis. Roni menemukan sebuah dompet. Dompet itu penuh dengan uang, sejumlah kartu kredit dan asuransi. “Dompet siapa ini? Banyak uangnya.” Kata Roni dalam hati.”Kakak mending kita bawa saja kerumah Ibu pasti senang.” Kata Dede. “Jangan lebih baik kita mencari pemiliknya, pemiliknya pasti bingung mencari-cari dompetnya kebetulan disini juga ada KTP-nya.” Sahut Roni kakaknya
Akhirnya mereka mencari pemilik dompet tersebut. Mereka menyamakan foto di KTP dengan wajah penumpang. Kemudian terlihatlah seseorang yang sedang bingung mencari sesuatu. Setelah disamakan dengan foto yang ada di KTP ternyata sama.
“Ma’af Om kehilangan dompet ya?” Tanya Roni pada pemuda tersebut
“Ya dek kok adek tahu?” Tanya kembali pemuda tersebut
“Ini mungkin dompet anda tadi terjatuh di depan pintu masuk.” Kata Roni
“Wah terima kasih dek, sebagai tanda terima kasih Adek Om anter ke rumah ya?” Tanya pemuda tersebut
“Tidak usah Om kami ikhlas kok.” Jawab Roni
“Sudahlah tidak apa-apa.” Paksa pemuda tersebut
“Baiklah Om kalau begitu.” Jawab Roni
Akhirnya mereka pemuda tersebut mengantar Roni dan adiknya pulang. Sebelum pulang pemmuda tersebut mengajak mereka berdua makan di sebuah Rumah Makan. Mereka berdua yang tengah kelaparan merasa senang ketika diajak makan oleh pemuda tersebut. “Wah makanannya enak.” Kata Didi. “Hahaha makanlah sampai kenyang” Kata pemuda tersebut
“Tunggu dulu nanti Ibu bagaimana?” Kata Roni yang sedang cemas pada Ibunya. “Sudahlah nanti Om bungkuskan” Kata pemuda tersebut.
Beberapa saat kemudian pemuda tersebut terkejut setelah melihat rumah yang ditempati Roni dan Dede. Rumah tersebut sangat sederhana bahkan sebagian dindingnya terbuat dari kardus.”Assalamualaikum” Teriak Roni kemudian masuk kedalam rumah. “Walaikumsalam” Jawan Ibunya dari dalam.
Ibunya sempat terkejut” kenapa ada orang luar sampai masuk ke rumah ini?” Kata Ibunya dalam hati. Kemudian Roni menjkelaskan semuanya mulai dari: Bagaimana bisa bertemu, bagaimana mereka sampai kesini semua Roni yang menjelaskan.
“Jadi apa tujuanmu kemari?” Tanya Ibu pada pemuda tersebut
“Tadi anak Ibu menemukan dompet saya yang jatuh di bis sebagai tanda terima kasih saya mengantrakan mereka pulang.” Jawab Pemuda tersebut
“Oh ya ngomong-ngomong Ibu belum tahu nama kamu, nama kamu siapa?” Tanya Ibu Roni
“Panggil saja Deni Bu” Jawab pemuda tersebut yang ternyata bernama Deni
“Oh Deni nama yang bagus” Sahut Ibu Roni
Mereka bercakap-cakap disana sangat lama hingga tak terasa malam pun tiba karena ada urusan besok pagi Om Deni akhirnya pulang. Om Deni sempat menawari Roni dan Didi untuk sekolah namun pada malam itu mereka menolaknya.
Keesokan harinya Roni dan adiknya seperti biasa mengamen di sebuah bis dan terminal. Pagi berganti menjadi siang dan saat itu mereka berada di sebuah warung dekat terminal. Mereka mendengar percakapan lelaki tua di sebelah mereka. Lelak tua tersebut membicarakan tentang sebuah kecelakaan bis di sebuah perempatan kota.
Kemudian beberapa saat kemudian saat tengah asyik mendengarkan cerita tersebut. Tiba-tiba sebuah bis datang dari arah pintu masuk terminal. Mereka bergegas untuk segera masuk demi mendapatkan Rupiah demi Rupiah.
Tak terasa bagi mereka tiba-tiba langit menjadi gelap. Mereka kemudian pulang dan segera menemui Ibu mereka.
“Dapat berapa Nak hari ini?” Tanya Ibunya kepada Roni.
“Hari ini lebih sedikit dari kemarin Buk.” Jawab Roni
“Ya sudah bagaimanapun kita tetap bersyukur masih dapat rezeki dari Allah.” Hibur Ibunya
Di tengah-tengah seriusnya mereka mengobrol tiba-tiba seorang pemuda masuk datang kerumah mereka
“Assalamualaikum” Teriak pemuda tersebut
“Walaikumsalam” Mereka bertiga
“Eh ternyata kamu, Om Deni!” Sahut Ibunya
“Wah Om Deni mau kesini tidak bilang-bilang.” Kata Didi
“Tadi Om Deni sempat ke terminal yang biasa buat kalian main tapi, Kalian tidak ada” kata Om Deni
“Waah tadi kami sibuk Om” Jawab Roni
“Haaah ada-ada saja kamu ini” Kata Om Deni
Malam itu mereka mengobrol dengan asyik sekali. Ibu Roni yang menganggap Om Deni seperti anaknya seolah tak keberatan mengobrol dengan mereka semua. Hari itu mereka semua terlihat bahagia.
Malam itu Om Deni menawari mereka sekali lagi untuk bersekolah mereka berdua tetap ragu-ragu tentang hal itu. Mereka takut tidak dapat mendapatkan uang seprti biasanya. Yang ada di pikiran mereka hanya apakah uang hasil jualan Ibunya itu cukup. Hingga tiba-tiba Om Deni berkata “Kalian tidak usah khawatir soal biaya nanti Om yang akan mengurus kalian tenang saja.” Mereka kemudian berfikir dua kali.
“Nanti Ibu bagaimana?” Tanya Roni kepada Om Deni
“Sudahalah nak Ibu tidak apa-apa bukannya sekolah itu memang keinginanmu?” Sahut Ibu
“Benar Ibu tidak apa-apa?” Tanya Dede kepada Ibunya
“Tenang saja Ibu akan baik-baik saja.” Jawab Ibu
“Nah bagaimana sekarang? Mau kan sekolah?” Tanya Om Deni
“Ya kami mau tapi, tidak punya seragam.” Jawab Roni Dan Didi
“Tenang saja nanti akan Om carikan” Jawab Om Deni
Keesokan paginya Roni dan Dede sudah memakai seragam sekolah. Kaki yang dulunya tanpa alas kaki, sekarang memakai sepatu. Ternyata Om Deni mendaftarkan mereka berdua di sebuah SD yang cukup dekat dengan kantornya. Sehingga mempermudah bagi Om Deni untuk mengawasi mereka.
Minggu demi minggu berlalu, bulan demi bulan berlalu Roni dan Dede meskipun mmereka tertinggal mereka dapat mengejar materi dengan cepat. Karena daya serap otak mereka dikatakan tinggi dan selisih umur mereka yang memadahi. Roni di tempatkan di kelas 6 sedangkan iedi di kelas 4. Tanpa di sadari waktu berlalu bagaikan kejapan mata. Hingga pada suatu pagi saat Roni dan Dede hendak berangkat sekolah. Mereka merasakan seolah akan ada sesuatu yang akan menimpa mereka. Namun mereka tetap berangkat sekolah karena pada hari itu ada Ulangan Kenaikan Kelas. Setelah mereka berdua pulang terlihatlah ada sebuah beberapa tetangga di rumah mereka
Setelah mereka malihat hal tersebut Roni berkata dalam hatinya. “Jangan-jangan itu....” Kemudian mereka bergegas pergi dan melihat apa yang terjadi. Mereka sangat terkejut setelah melihat dan menyadari bahwa Ibunya telah dalam kondisi kritis.
“Ibu... Ibu kenapa?” Tanya Roni pada Ibunya yang hanya bisa berbaring
Tiba-tiba Om Deni datang kerumah mereka berdua
“Hah apa yang terjadi astagfirullah haladzim cepat kita bawa Ibu ke Rumah Sakit” Kata Om Deni yang tiba-tiba datang
Setelah di rumah sakit. Ibu mereka langsung di bawa ke UGD. Mereka Roni dan Didi yang ingin masuk untuk melihat langsung di hadang suster. Tidak ada yaang lain yang dapat mereka lakukan selain menunggu hasil dokter. Setelah beberapa jam menunggu akhirnya mereka dapat di perbolehkan masuk.
“Bu Ibu kenapa Bu?” Tanya Roni kepada Ibunya
“Ibu tidak apa-apa kok nak.” Jawab Ibunya
“Lantas kenapa Ibu seperti ini?” Tanya Didi
“Yang penting sekarang apa pun yang terjadi kalian tidak boleh menangis dan harus tetap tegar ingat Ibu akan selalu menemani kalian” Ujar Ibu
Semenjak saat itu mereka berdua selalu menemani Ibunya bahkan sampai membolos sekolah. Hingga pada suatu hari mereka terkejut saat detak jantung Ibunya makin melemah.
“Dokter...... tolong!!!!!!!!” Teriak Roni di rumah sakit
Detak jantungnya semakin melemah Dokter bergegas untuk memeriksa Ibu. Mereka yang hanya berdua karena Om Deni sedang ada cara penting. Kemudian di suruh suster untuk keluar.Mereka hanya dapat menunggu. beberapa saat kemudian Om Deni datang menemui mereka
“Apa yang terjadi?” Tanya Om Deni pada mereka berdua
“Ibu kritis lagi.” Jawab Roni
Tiada kata lain yang terucap selain perasaan terkejut di muka Om Deni. Setelah beberapa jam kemudian. Dokter keluar dari ruangan tersebut
“Bagaiman Dok hasilnya?” Tanya Om Deni pada dokter itu
“Kanker yang dimilikinya kini telah mancapai stadium IV detak jantungnya kini mulai melemah, Dan kami sudah melakukan yang terbaik”
“S...sudah melakukan yang terbaik?”
“Tapi kami minta ma’af ternyata Tuhan berkehendak lain.”
“Dia hanya akan dapat bertahan sampai besok.”
Rasa kecewa terlihat jelas di raut muka Om Deni. Kemudai mereka bertiga masuk ke ruang Ibu. Ibu yang hanya tergeletak lemas menambah kesedihan mereka.
“Nak ada sesuatu yang ingin Ibu sampaikan pada kalian”
“A..apa Bu?” Jawab Roni dan Didi
“Tadi malam Ibu bermimpi Ayah menjemput Ibu dan aku melihat kalian telah tumbuh Dewasa menjadi pribadi yang cerdas. Dan ada satu yang ingin Ibu sampaikan Jangan pernah menyerah dalam keadaan apapun yakinlah pasti ada sebuah jalan keluar kamu harus janji nak”
“Ya bu kami berjanji”
Om Deni yang melihat kejadian tersebut tak kuasa menahan tangis. Keesokan paginya Ibu telah di tutup dengan kain putih. Acara pemakaman berlangsung di rumah mereka yang telah di renovasi. Rono dan Didi harus izin tidak masuk sekolah. Om Deni juga izin tidak pergi bekerja.Para pelayat banyak berdatangan karena di tempatnya Ibu dikenal sebagai orang yang sangat baik
Suasana menjadi sangat sedih ketika jenazah sudah sampai di tempat pemakaman.Roni dan Didi tak kuasa menahan tangis. Setelah berbagia acara jenazah kemudian di kubur. Setelah acara tersebut selesai yang masih di pemakaman hanya Roni, Didi dan Om Deni
“Om ada sesuatu yang ingin ku tanyakan.” Kata Roni pada Om Deni
“Apa?” Kata Om Deni
“Kenapa selama ini Om Deni sangat baik pada keluarga kami? Seolah semenjak kejadian itu Om seperti bagian dari keluarga kami.”
“Sebenarnya Om dulu juga sama seperti kamu kedua orang tua Om meninggal dunia saat umurku masih sepertimu , Kedua orangtuaku meninggal saat ada sebuah bentrokan di tempat tinggalku namun ada seseorang yang menolongku pada saat itu, Seorang pemuda yang sangat baik, aku menggilnya dengan Om Aji. Yang tiada lain adalah Ayahmu.”
“Haaaah A..ayahku?”
“Ya, Aku mengetahuinya dari sebuah cincin yang diletakkan di atas meja pada malam itu”
Roni dan Didi terkjut mendengar itu semua.
“J..jadi selama ini kau seolah membayar budi yang telah dilakukan Ayahku?” Tanya Roni
“Ya kau bisa menyebutnya seperti itu.”

TAMAT

0 comments:

Post a Comment