This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, 6 February 2014

Cerpen "Di Sana Beda Di Sini Juga"

Udah lama nggak ngepos dan kali ini bakal posting tentang cerpen baru. Lets check it out.


Di Sana Beda Di Sini Juga
            Aku duduk terdiam. Melihat anak-anak kecil berlarian kesana-kemari. Hujan di kemarin malam seolah tidak dirasakan oleh kaki-kaki mereka. Aku mencoba berdiri bertanya pada salah satu dari mereka.
“Dek ada apa ta ko lari-lari?” Tanyaku dengan lembut kepada anak-anak itu.
“Itu lho mas kethopraknya sudah mau dimulai! Cepat-cepat supaya kebagian kursi.” Jawab salah satu dari mereka dengan polos.
Memang betul hari itu ada sedekah bumi di desa tempat aku tinggal. Sebelum acara di mulai biasanya para ulama setempat mengadakan khajatan terlebih dahulu. Jauh hari sebelum hari itu. Biasanya anak-anak dari desa lain pergi ke desaku untuk mengikat tiang di rumah-rumah penduduk. Yang tandanya rumah itu akan memberi sebuah hidangan untuk khajatan atau dalam bahasa jawa disebut Ambengan.
            Aku terdiam kembali. Karena rumahku berdekatan dengan rumah Kepala Dusun, tempat sedekah bumi berlangsung, jadi aku tidak perlu berjalan jauh-jauh untuk menonton. Hingga seorang temanku datang menghampiriku. “Hai kak, kenapa kok ndak nonton? Ayo nanti tidak kebagian kursi lho.” Kata temanku yang bernama Syahri. “Ah nanti dulu, sudah kalau mau duluan aja aku nanti kok” Jawabku
Melihat Syahri yang masih di kelas 6 SD itu berjalan semakin jauh membuatku iri dengannya. Rasanya aku ingin kembali pada masa kecilku ketika yang hanya di pikiranku hanyalah bagaimana caraku untuk tetap tersenyum.
            Waktu demi waktu berlalu dan aku masih duduk terdiam. Aku mulai bosan untuk menunggu. Akhirnya aku mencoba untuk berjalan ke arah temapat sedekah bumi berlangsung. Langkah demi langkah aku melihat banyak pedagang yang menjajakan dagangan mereka. Dan banyak dari mereka yang sudah semalam menunggu membuat tenda di sekitar tempat mereka berjualan. Ku akui sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa.
            Hingga di salah satu pedagang mainan aku bertemu dengan teman lamaku. Lucu memang merasakan kami berdua telah tumbuh dengan cepat. Luthfi namanya teman Sdku dulu, meskipun kami SMP kelas 8 tapi  kami sangat jarang sekali berjumpa seperti ini. Aku dan dia bersekolah di tempat yang berbeda.  Sekolahku di SMP N 1 Winong  dan dia di Mts N Winong. Saat perjumpaan itu kami berbicara cukup banyak tentang bagaimana keadaan kita di sekolah masing-masing.
“Sa bagaimana sekolahmu?” Tanya Luthfi padaku
“Ya begini saja lah tenang dan lagi banyak tugas.” Jawabku santai
“Hahahaha dari dulu kamu itu tidak berubah” Sahut Luthfi
Memang seru saat perbincangan ku dengannya dan di saat di tengah-tengah kami sedang berbincang-bincang. Tiba-tiba terdengar bunyi “Dor” yang ternyata bunyi sebuah mercon.
Ternyata berasal dari para lakon-lakon yang sedang bermain di atas panggung. Sontak saja aku kaget mendengar itu. Hal itu digunakan untuk memeriahkan suasana dan membuat kesan pertarungannya lebih kuat. Hal itu langsung saja membuatku penasaran dan langsung saja segera aku dengan Luthfi berlari untuk melihat apa yang terjadi.
            Ternyata ada salah salah tokoh yang sedang betarung dengan siluman-siluman. Hal itu membuat para penonton terpaku dengan suasana. Memang banyak yang menunggu bagian ini bagian dimana terdapat pertarungan-pertarungan menarik didalamnya.
Hal ini membuat aku teringat kembali kenangan pada 4 tahun yang lalu. Saat itu aku masih berumur 10 tahun. Hari itu sama seperti hari ini sedang ada sedekah bumi di tempatku. Pagi-pagi sekali aku bangun untuk melihat acara syukuran. Aku tak peduli meskipun hujan gerimis datang. Langkah-langkahku pada waktu itu seolah tiada hambatan namun yang namanya kehidupan tidak ada yang tahu bagaimana jalannya.
            Tiba-tiba telingaku mendengar ucapan seseorang dari dalam masjid. Aku mendengar bahwa seorang tetanggaku meninggal dunia. Aku tak percaya mendengarnya karena orang itu adalah orang yang berjualan di dekat sekolahanku waktu SD. Mungkin ini penyebab langit meneteskan rintik-rintik air mata.
            Langsung saja para ulama setempat datang rumahnya. Aku yang tengah itu masih tidak tahu apa arti kehilangan masih terdiam. Hingga Ega temanku mengajakku pergi. Kami berdua menjauh dari tempat itu.  Dia mengajakku untuk agak menjauh dan menghindari keramaian dulu sejenak. Dengan bosan menunggu akhirnya kami berdua bermain bola.
“Sa, ayo tendang!! Bobol gawangnya.” Teriak Ega
“Pasti, jangan remehkan tendanganku!” Sahut ku
            Waktu berlalu sedikit demi sedikit. Waktu Dhuhur berkumandang. Acara sedekah bumi pada hari itu agak tidak tepat waktu karena sebagian warga harus memakamkan jenazah. Ega mengajakku untuk kembali ketempat Acara sedekah bumi dimulai. Berhubung pada saat itu acaranya adalah wayang. Banyak alat-alat yang bisa kumainkan sebelum wayang dimulai. Seperti gamelan yang digunakan dalam acara pertunjukkan. Aku memainkan gamelan-gamelan itu dengan asal-asalanl Dari kejauhan mungkin aku terlihat seperti pemain yang handal. Tapi begitu di dekati, seperti orang yang tidak berpengalaman sekali.
            Sementara Ega malah bermain gong. Dia memukul-mukul gong dengan tangannya sendiri hingga terasa kesakitan. Aku hanya dapat tertawa melihatnya memainkan gong itu. Dari kejauhan aku melihat ada temanku lagi yang datang ke sini untuk membeli jajanan dari para penjual-penjual.
“Hai mau ngapain? Sini lho” Aku menyapa temanku Iman
“Hehe Mas bro mau beli jajan dulu, Sabar” Jawab Iman dengan santai
            Iman adalah temanku sekelasku saat itu. Dia merupakan salah satu temanku yang baik
Kebaikannya adalah salah satu tanda tanya bagiku. Dia adalah seorang anak yatim Ibunya meninggal terlebih dahulu. Kini dia hanya tinggal dengan ayahnya. Namun hal itu seolah tidak membuatnya putus asa dengan keadaan. Melihatnya terkadang membuatku iri. Bagaimana dia masih dapat tersenyum dalam kondisinya yang seperti itu. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa plastik yang berisi gorengan dari seorang penjual di acara sedekah bumi tersebut.
“Sa! Main terus kamu belajar sana lho” Teriak Iman dengan tiba-tiba
“Heleeeh sok bijak padahal kamu sendiri di rumah juga tidak pernah belajar” Jawab ku dengan mengejeknya
“Yeeee cepat belajar sana Bapakmu marah nanti lho” Kata Iman
“Memangnya apa urusanmu?” Jawabku acuh tak acuh
“Yeee mulai marah mulai marah hahahah” Sahut Iman
            Setelah mendengar tawa Iman yang cukup membahana itu. Akhirnya aku menang. Tiba-tiba ia tersedak saat memakan gorengan yang ia beli tadi.”Hooooeeeeeek” teriak Iman tersedak. Teman-temanku lain yang melihatnya juga ikut tertawa melihatnya. Setelah bercanda tawa, kami disuruh minggir oleh panitia karena acaranya akan segera dimulai.
Aku dengan sabar menanti duduk di bagian paling depan supaya dapat mengetahui apa yang diceritakan dhalang kali ini. “gleng dung gleng dung gleng” Suara gamelan yang dimainkan oleh pembawa alat musik (atau niyaga dalam bahasa jawa) mengiringi acara Wayang tersebut. Sayang hari itu hanya ada sedkit masyaraat sekitar yang menonton. Mungkin mereka menganggap acara wayang itu membosankan fikirku.
            Yang benar saja padahal wayang adalah salah satu budaya Indonesia. Yang diamana wayang itu adalah warisan budaya. Dan tidak semua negara mampu menirunya. Sungguh aku tidak percaya dengan apa yang telah terjadi di tempatku. Meskipun ramai namun hanya pada tempat para pedagang saja. Mereka hanya melihat-lihat penjual mainan dan penjual makanan ringan.
“Dor” tiba-tiba suara mercon mengagetkanku dari lamunan masa lalu itu. Para lakon telah mulai berganti. Dan kini mereka menjadi lebih sangar dari yang tadi. Dengan lincah para lakon-lakon beraksi. Mulai dari yang pukul-pukulan biasa hingga salto. Kemampuan-kemampuan mereka akting yang jarang dimiliki orang lain membuat mereka terllihat sangat istimewa. Bayangkan saja bagaimana para lakon-lakon itu berjuang. Hingga mereka rela tidur di jalan-jalan demi lancarnya pertunjukkan, sungguh beruntung nasibku lahir di keluarga cukup.
Dan kali ini acaranya berganti menjadi Lawakan (Atau dagelan dalam bahasa jawa). Mungkin dalam istilah sekarang orang-orang banyak menyebutnya dengan stand up comedy namun dengan bahasa jawa. Lakon pada dagelan tersebut adalah Kancil dan Belong. Banyolan-banyolan khas mereka membuat ku sontak tertawa. Gaya-gaya mereka yang selalu mengundang canda tawa sangat menghibur para kaum muda yang sedang dilanda galau.
            Banyolan-banyolan khas Jawa tersebut memang sangat diminati para penonton. Dari golongan muda hingga golongan tua.  Hal yang kusuka disini dimana semua orang dapat membaur menjadi satu.
            Dan jika sudah begini biasanya para pemain akan lupa waktu. Hingga matahari mulai condong ke arah barat. Tanda Acara kethoprak harus di sudahi. Memang dalam penyajiannya. Kethoprak dibagi menjadi dua babak. Pertama dari siang hingga sore hari. Dan kedua Jam 8 hingga malam hari.
Para lakon dan semua pendukung mulai berisitirahat. Dari wajah-wajah mereka kelihatan kalau mereka tampak lelah. Mereka akan melaukukan apapun demi kumpulkan rupiah hanya demi keluarga dirumah yang sudah menanti mereka. Terkadang aku merasa kasihan dengan keluarga mereka yang ditinggal di rumah.
            Namun  kehidupan ini sudah ada yang mengatur bagaimana manusia hidup. Apakah mereka akan menghadapi dunia ini dengan mudah atau sebaliknya. Tiba-tiba Hand phone ku berdering rupanya saudara ku yang dari Kalimantan menelpon. Dia pernah tinggal di Jawa untuk 6 tahun dari SMP kelas 7 hingga lulus SMA. Namun karena tuntutan pekerjaan dia harus pindah ke Kalimantan.
“Halo assalamualaikum” Sapa Gama di seberang telpon
“Walaikumsalam  ada apa bro” Ku jawab dia dengan Bahasa Indonesia karena aku takut dia sudah lupa dengan bahasa jawa
Ternyata aku salah dia masih ingat 100% bahasa jawa. Di seberang telpon dia menjawab “Halah rak usah nganggo bahasa indonesia isih iling aku basa jawa.” Atau dalam bahasa indoneisa “Hah nggak usah pakai bahasa indonesia masih ingat aku bahasa jawa”. Pembicaraan kami berlangsung sangat lama aku tahu dia kangen dengan Tanah Jawa ini. Dia juga bercerita bahwa kebutuhan di Kalimantan lebih mahal.
Dia juga bercerita bahwa ada sebuah acara adat di daerahnya. Di sana didominasi oleh suku Dayak. Rumah-rumah disana juga disesuaikan dengan adat setempat. Dia berkata bahwa ia sedang memiliki pekerjaan yang menumpuk. Namun ini sudah menjadi kegiatannya sehari-sehari. Dia juga berencana pulang ke Jawa untuk aktivits liburannya kelak. Karena kesibukannya ia jarang menelpon nomer-nomer saudaranya yang ada di Jawa. Kemudian Gama menutup telponnya karena upacara adat di sana telah dimulai.
            Malam itu aku bergegas mengerjakkan tugas-tugas sekolah meskipun agak terganggu dengan suara-suara dari pemain kethoprak namun aku tetap berusaha berkonsentrasi. Setelah semuanya selesai aku pergi ke tempat itu lagi untuk melepaskan penat. Kali ini aku kesana dengan kakak perempuanku. Dengan tingginya yang sekarang sudah kulampau aku malah terlihat sebagai kakaknya dibanding adiknya. Hal pertama yang ku datangi adalah ketempat penjual Pop ice karena aku sangat haus.
            Pada malam hari kethoprak letersa lebh seru dibanding dengan siang hari di malam hari lakon-lakon terlihat lebh sangar dari siang hari terlebih lagi pada siluman-silumannya. Terlihat sangat menarik.
            Sayang hal ini hanya terjadi sekali daslam setahun. Hanya di pertunjukkan saat ulang tahun desa saja. Malam itu aku bertemu banyak sekali temanku. Rata-rata mereka adalah temanku SD dulu. Mereja sekarang terlihat lebih besar dibanding waktu SD dulu. Hanya temanku yang bernama Ana yang tingginya dari dulu tidak pernah berubah.
            Aku permisis dulu dengan kakakku karena aku ingin berkumpul dengan teman-teman lamaku. Saat salah satu temanku Alfi mengajakku pergi jalan-jalan aku melihat ada kumpulan orang duduk di bawah pohon dengan menggunakan lilin sebagai penerangan. Ternyata mereka sedang bermain judi.
Mereka bermain judi dengan menebak angka yang akan dikeluarkan oleh sang bandar. Terlihat mereka sangat menikmati permainan tersebut. Namun hasil yang mereka dapatkan hanyalah uang haram. “Sa mending kita pergi saja yuk?” Ajak Alfi. “Ya mending kita kembali ke tempat teman-teman kita tadi.” Jawabku.
Kami berjalan kembali ke tempat kami tadi. Temank yang semuanya berjumlah 7 orang itu menceritakan bagaimana keadaan sekolah mereka, hasil belajar mereka, serta prestasi mereka. Mereka juga bercerita ada guru yang galak di sekolah mereka.
Canda tawa malam itu mengiringi kami saat menonton kethoprak. Jujur terkdang aku merindukan hal-hal yang seperti ini. Bercanda tawa dengan teman-teman lama yang membuatku sadar bahawa persahabatan akan selalu ada sampai kita mati. “dor” suara mercon mengagetkan kami. Sontak saja temanku langsung tersedak saat mendengar itu karena terkaget.
Aku hanya bisa tertawa melihat ia.Tiba-tiba Hand phone ku bunyi. Ternyata Gama menelpon ku. “Halo assalamualaikum acaranya sudah selesai.” Kata Gama di seberang telepon. “Walaikum salam wah bagaimana tadi?” Tanyaku pada Gama. “Wah acara adat disini keren udah lama nggak nonton yang beginian. Tiap hari yang ditonton Cuma komputer di kantor.” Jawab Gama.
            Memang benar acara adat di daerah sana bagus. Namun hal itu tidak mebuat ku sebagai generasi muda larut begitu saja. Aku juga menganggap acara adat di tempatku bagus. Sebagai generasi muda aku hanya dapat menghargai apa yang telah diwarisakan para pendahulu. Karena sebuah acara adat adalah sebuah acara sakral yang sudah turun temurun. Karena itu jarang sekali yang melanggar. Dan jika  dilanggar akan mendapatkan bala. Contoh ketika ada orang yang akan menikah, mereka harus dihitung dulu angka  kelahiran mereka jika jumlahnya termasuk angka yang terlarang maka pernikahan ini harus dihentikan. Jika tidka akan membahayakan pengantin tersebut. Sama halnya dengan perbedaan adat seperti Aku di Jawa dan Gama di Kalimantan hal itu tidak membuatku merasa berbeda. Yang penting Indonesia

TAMAT